Sejarah Kebudayaan Suku Nias

Tari Lompat batu suku niasHukum adat Nias secara umum disebut fondrako yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini sampai sekarang.Suku Nias mengenal sistem kasta(12 tingkatan Kasta). Tingkatan kasta yang tertinggi adalah “Balugu”. Untuk mencapai tingkatan ini seseorang harus mampu melakukan pesta besar dengan mengundang ribuan orang.

 Mitologi

Menurut masyarakat Nias, salah satu mitos asal usul suku Nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut “Sigaru Tora`a” yang terletak di sebuah tempat yang bernama “Teteholi Ana’a”. Menurut mitos tersebut mengatakan kedatangan manusia pertama ke Pulau Nias dimulai zaman Raja Sirao yang memiliki 9 orang Putra yang disuruh keluar dari Teteholi Ana’a karena memperebutkan Takhta Sirao. Ke 9 Putra itulah yang dianggap menjadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias.

Marga Nias

Suku Nias menerapkan sistem marga mengikuti garis ayah (patrilineal). Marga-marga umumnya berasal dari kampung-kampung pemukiman yang ada. 

Kehidupan Sosial

Pemberian salam kepada sesama sangat tinggi nilainya terhadap satu dengan yang lain. Bila seseorang tidak bersapaan atau memberi salam kepada yang lain, maka diantara kedua belah pihak sudah terjadi disintegrasi sosial yang mungkin disebabkan oleh sifat, gaya, cara jalan, tutur bahasa, cara berpakaian atau penataan rambutnya yang kurang diterima oleh kebanyakan orang. Jika sifat di atas tidak ada maka relasi mereka menjadi lebih akrab sehingga setiap bertemu selalu menyapa dengan ucapan “Ya’ahowu” (salam khas Nias) yang dilanjutkan dengan kata “Yae nafoda” atau bologö dödöu, lö afoda” (ini sirih kita atau maaf kita tidak punya sirih). Dalam situasi tersebut kedua belah pihak saling memakan sirih. Setelah itu baru diakhiri dengan salam kembali dan kata “ya’ami ba lala” (selamat jalan) sebagai kata perpisahan.


Beberapa kebiasaan mendasar :

a.       Persiapan Orang yang hendak bertamu
Wanita yang sudah dinamai “Si no lafatö turu” atau “sino lafotu” (sudah berkeluarga dengan tahap-tahap adat) pergi bertamu baik kepada orang yang sudah dikenal maupun kepada orang yang belum dikenal selalu mempersiapkan diri dari rumah berupa penghormatan. Sebelum berangkat dari rumah bila seorang bapak yang pergi dia mengatakan kepada istrinya “biz(d)i nafogu ua” (persiapkan sirih saya dulu), saya mau pergi kepada Ama Warisan. Lalu ibu mempersiapkan sirih dan memberikanna di “Naha nafo” (Kempit sirih). Setelah siap dipersiapkan baru bapak mengambil dan disimpannya dalam kantongnya.
Dalam perjalanan, setiap orang yang bertemu kepadanya selalu memberi salam “Ya’ahowu” dan mengambil sirih yang telah dipersiapkan dari rumah dan diberikan kepada orang yang bertemu dengan dia mengatakan “Yae nafoda ” (ini sirih kita). Setelah selesai baru melanjutkan perjalanan di mana tujuan pertamanya.
Bila seorang ibu rumah tangga yang hendak bertamu baik pergi kepada “Sitenga bö’ö” (kerabat) maupun kepada orang lain, terlebih dahulu mempersiapkan sirih yang ditempatkan di “Naha Nafo” (kempit sirih), dan setiap orang yang hendak bertemu selalu memberi salam “Ya’ahowu” terus bersalaman dan baru menyungguhkan sirih satu dengan yang lain.

b.      Kebiasaan bila tamu datang di rumah
Bila seseorang datang di rumah untuk bertamu selalu dimulai dengan kata salam “Ya’ahowu” dan dilanjutkan sikap bersalaman. Kemudian disambung dengan kata “ Yae nafoda” (ini sirih kita) atau bologö dödöu Lö’afoda (ma’af tidak ada sirih kita). Baru ibu rumah tangga menyuguhkan sirih kepada para tamu. Pada saat saling mungunyah sirih yang disuguhkan timbal balik, ibu rumah tangga berkata: “Hadia göda Ga’a atau Baya?” (apa makanan kita?) dan sebagainya, “Hana wamikaoniga?” (Kenapa kalian mengundang kami?). Tamu yang datang menjawab: “Lö hadöi, möiga manörö-nörö manö” (tidak ada, hanya sekedar jalan-jalan saja).”
Dari kata seorang ibu di atas, itu bukan berarti menghendaki supaya ada makanan dengan bertanya “apa makanan kita.” Tetapi sapaan untuk menindak lanjuti kata seterusnya supaya ada keakraban dan nampak lebih dekat. Begitu sebaliknya dengan jawaban dari tamu yang mengatakan “hanya jalan-jalan saja’ atau “meminta makanan kami”. Itu semua kedua belah pihak hubungan mereka lebih kekeluargaan. Hal ini juga tidak dikatakan kepada orang yang tidak dikenal sama sekali. Kedua hal ini baik sebagai tamu atau tuan rumah mempunyai tujuan yang berbeda dari pada ungkapan pertama tadi.
Setelah beberapa saat baru tamu memberitahukan apa tujuan yang sebenarnya dan tuan rumah baru berbicara yang sebenarnya sesuai dengan tujuan yang dikehendaki oleh tamu. Setelah selesai pembicaraan baru dilanjutkan dengan kata “mofanöga” (permisi, kami pergi). Tuan rumah tidak terus mengizinkan pergi tetapi harus “Lasaisi” artinya kita tahan mereka untuk menunggu makan. Dengan kata “Tabase’ö öda idanö ua” (mari kita minum dulu) atau tabase’ö öda wakhe safusi ua hana wa aösö-aösö sibaikö” (mari kita tunggu makanan kita nasi putih dulu, kenapa tergesa-gesa sekali) “Ha walö diwo-diwoda” (hanya saja, tidak ada lauk pauk kita).
Kata-kata di atas sikap tamu bisa menunggu bisa juga tidak. Karena hanya merupakan basa basi. Dilanjutkan dengan kata maaf tidak ada lauk pauk kita. Itu hanya menunjukkan kerendahan hati walaupun kenyataannya lauk-pauk mereka anak babi yang tambun, ayam atau “Ni’owuru” (daging babi yang sudah digarami).

c.       Kebiasaan waktu makan
Pada hari biasa mereka makan tiga kali sehari. Pagi hari mereka makan “Sinanö” (umbi-umbian) siang hari mereka makan “umbi-umbian” dan nasi sebagai “Fangazökhi dödö” (makanan yang menyenangkan). Pada malam harinya mereka makan seperti makan siang. Sehingga setiap hari mereka rutin makan nasi dua kali sehari. Pada hari minggu mereka makan dua kali sehari makan sebelum pergi ke gereja dan pada malam harinya. Pada saat makan sedang berlangsung tidak boleh ngomong-ngomong karena marah “Sobawi” (yang selalu menegur anggota keluarga bila melalaikan ketertiban di rumah).
Makanan nasi ini lebih tinggi nilainya dari pada makanan yang lain. Bila makan tidak boleh tersisa dan dibuang begitu saja. Kemudian kalau dimasak harus pakai ukuran apakah Tumba (jumba), Hinaoya (liter), kata (tekong) dan lain-lain serta tidak boleh “Lafasösö” (dipadatkan) dalam periuk, tidak boleh dipukul-pukul pinggir periuk dengan sendok. Semua pantangan ini apabila tidak ditaati maka bisa berakibat marah “Sibaya Wache” (pemilik dari pada nasi tersebut) seandainya marah akibatnya bila menanam padi tidak subur dan tidak menghasilkan banyak buah serta banyak mendatangkan berbagai wabah penyakit dan bila dimasak “Lö mo’ösi” (artinya walaupun satu jumba dimasak tetapi hasil masakan nampak seperti satu liter).

d.      Kebiasaan suami-istri bila pergi bersama
Orang Nias pada masa dulu bila pasangan suami-istri itu pergi bersama mempunyai norma adat tertentu yang mana bila pergi bersama kemana saja baik ke ladang, ke sawah, pergi kepada paman atau pergi pada pesta-pesta selalu laki-laki di belakang dan perempuan di depan. Hal ini menunjukkan bahwa wanita itu adalah istrinya, yang wajar mendapat perlindungan dari berbagai gangguan, yang dicintai, yang dikasihani, serta menunjukkan rasa tanggung jawab sebagai suami.
Bila seseorang anak muda jalan bersama dengan saudaranya perempuan atau perempuan yang lain tetapi mereka berjalan bersama laki-laki ke belakang dan perempuan ke depan itu adalah merupakan ejekan kepada orang yang melihat. Mereka mengatakan apakah mereka itu suami-istri? Atau kenapa orang itu pergi seperti suami istri? Ini juga suatu tanda kepada publik bahwa dari letak jalan seseorang mereka bisa mengetahui bahwa itu adalah suami-istri.

 Penghormatan dengan kata “Ya’ahowu” dan “pemberian sirih” dalam porsi adat.
Menurut porsi adat perkawinan yang telah dituturkan dalam acara “Fanika Era-era mböwö” (suatu acara yang menguraikan tentang silsilah keturunan dari pada pihak penganten perempuan yang diberitahukan secara formal kepada pihak penganten laki-laki mulai dari famili terdekat sampai kepada yang terjauh serta beban-beban yang harus ditanggung dalam hidupnya sesuai dengan hubungan kekerabatan). “Hönö mböwö no awai, Hönö mböwö no tosai” (ribuan jujuran sudah selesai, ribuan jujuran masih tersisa), artinya tanggung jawab terhadap mertua dan sanak famili dalam bentuk beban-beban tidak pernah putus sampai seumur hidup. Karena itu kemampuan penghormatan dengan harta benda sangat terbatas dalam bentuk “Böwö”, maka diberi kelonggaran untuk mengatasi hal tersebut, yaitu jangankan penghormatan dengan harta materi tetapi penghormatan dengan kata-kata sapaan “Ya’ahowu” dan “Fame’e afo” (pemberian sirih) kepada “Sitenga bö,ö” dan lain-lain, maka itu sudah cukup yang setara nilainya dengan empat alisi babi, dan dianggap sudah lunas utangnya yang telah dituturkan dalam acara “Fanika era-era mböwö”. Dewasa ini kebiasaan tersebut sudah tidak ada lagi, penghormatan berupa harta materi maupun penghormatan dengan kata-kata sudah hampir tidak ada lagi. Kita tidak tau bahwa dari kata-kata kita itu sudah ada nilainya yang lebih dari “böwö” atau makanan. Inilah yang dikatakan “Ho maigö ami li moroi ba gö” artinya dengan penghormatan kata-kata itu sudah cukup senang.

Kuliner tradisional

1. Makanan Khas

  • Gowi Nihandro (Gowi Nitutu ; Ubi tumbuk)
  • Harinake (daging Babi cincang dengan cacahan yang tipis dan kecil-kecil)
  • Godo-godo (ubi / singkong yang diparut, dibentuk bulat-bulat kemudian direbus setelah matang di taburi dengan kelapa yang sudah di parut)
  • Kofo-kofo(daging ikan yang dihancurkan, dibentuk bulat dan dijemur/dikeringkan/diasap)
  • Ni’owuru (daging babi yang sengaja diasinkan agar bisa bertahan lama)
  • Raki gae (pisang goreng)
  • Tamboyo (ketupat)
  • Loma (beras ketan yang dimasak dengan menggunakan buku bambu)

2. Minuman

  • Tuo Nifaro (minuman yang berasal dari air sadapan pohon nira (dalam bahasa Nias “Pohon Nira” = “tola nakhe”) yang telah diolah dengan cara penyulingan)
  • Tuo mbanua (minuman tuak mentah yang berasal dari air sadapan pohon kelapa)

 

Tradisi Nias

1.      Lompat Batu

2.      Tari Perang

3.      Maena 

4.      Tari Moyo

5.      Tari Mogaele

6.      Sapaan Yaahowu 

7.      Fame ono niahalo (pernikahan)

8.      Omohada (rumah adat)

9.      Fame’e toi nono nihalo(pemberian nama bagi perempuan yang sudah menikah)

 Dalam budaya Ono Niha terdapat cita-cita atau tujuan rohani hidup bersama yang termakna dalam salam “Ya’ahowu” (dalam terjemahan bebas bahasa Indonesia “semoga diberkati”). Dari arti Ya’ahowu tersebut terkandung makna: memperhatikan kebahagiaan orang lain dan diharapkan diberkati oleh Yang Lebih Kuasa. Dengan kata lain Ya’ahowu menampilkan sikap-sikap: perhatian, tanggungjawab, rasa hormat, dan pengetahuan. Jika seseorang bersikap demikian, berarti orang tersebut memperhatikan perkembangan dan kebahagiaan orang lain : tidak hanya menonton, tanggap, dan bertanggungjawab akan kebutuhan orang lain (yang diucapkan : Selamat – Ya’ahowu), termasuk yang tidak terungkap, serta menghormatinya sebagai sesama manusia sebagaimana adanya. Jadi makna yang terkandung dalam “Ya’ahowu” tidak lain adalah persaudaraan (dalam damai) yang sungguh dibutuhkan sebagai wahana kebersamaan dalam pembangunan untuk pengembangan hidup bersama.


Pakaian Adat Suku Nias

PAKAIAN ADAT SUKU NIASPakaian adat suku Nias dinamakan Baru Oholu untuk pakaian laki-laki dan Oroba Si’oli untuk pakaian perempuan. Pakaian adat tersebut biasanya berwarna emas atau kuning yang dipadukan dengan warna lain seperti hitam, merah, dan putih. Adapun filosofi dari warna itu sendiri antara lain:

  • Warna kuning yang dipadukan dengan corak persegi empat (Ni’obakola) dan pola bunga kapas (Ni’obowo gafasi) sering dipakai oleh para bangsawan untuk menggambarkan kejayaan kekuasaan, kekayaan, kemakmuran dan kebesaran.
  • Warna merah yang dipadukan dengan corak segi-tiga (Ni’ohulayo/ ni’ogöna) sering dikenakan oleh prajurit untuk menggambarkan darah, keberanian dan kapabilitas para prajurit.
  • Warna hitam yang sering dikenakan oleh rakyat tani menggambarkan situasi kesedihan, ketabahan dan kewaspadaan.
  • Warna putih yang sering dikenakan oleh para pemuka agama kuno (Ere) menggambarkan kesucian, kemurnian dan kedamaian.

 Rumah adat

Rumah adat suku nias“Rumah Adat Tradisional Nias (Omo Hada) merupakan simbol kemegahan masyarakat Nias di zaman dulu, sebuah karya arsitektur yang unik dan bernilai tinggi, tidak menggunakan paku besi untuk menghubungkan masing-masing bagian di rumah adat tersebut, hanya menggunakan pasak kayu namun terbukti kokoh dan tahan gempa”

Berbicara tentang Omo Hada (Rumah Adat), secara umum, Omo Hada terbagi atas tiga jenis (menurut Alain M.Viaro dan Arlette Ziegler) berdasarkan bentuk atap dan denah lantai bangunan. Yang pertama adalah tipe Nias Utara dengan ciri khas bentuk atap bulat dan bentuk denah oval, Tipe Nias  Tengah Bentuk  atap bulat ,  bentuk  denah segi empat;  dan Tipe Nias Selatan Bentuk  atapnya  segi empat , dengan  bentuk  denah persegi.

Omo Hada di Nias dibedakan oleh denah lantai dasar yang khas dengan bentuk lonjong. Atapnya terdiri dari struktur yang lebih ringan dengan ruangan bawah atap yang tanpa halangan, yang memungkinkan lantai tingkat di atas sebagai lantai tempat tinggal utama. Omo Hada Utara bukan saja menampilkan kesan monumental, tetapi juga berperan sebagai wadah bertinggal yang leluasa dan nyaman. Denah dengan pola open lay out memudahkan penghuni mengatur tata ruang   sesuai selera. Pola paling umum adalah membagi ruang menjadi empat bagian, cukup dengan meletakkan dinding penyekat bersilangan tegak lurus satu sama lain di tengah ruangan. Sistem denah terbuka juga membuat rumah vernakular ini sangat adaptif dengan kebutuhan masyarakat masa kini sebab pemilik rumah dapat leluasa menggunakan berbagai perabot modern di dalamnya. Kenyamanan ruang cukup terjaga karena elemen rumah dirancang secara cerdik menggunakan prinsip arsitektur tropis.

Di tempat-tempat yang diinginkan, bilah dinding papan bisa diganti jerajak untuk menciptakan bukaan. Di ruang duduk lantai di sepanjang dinding umumnya sengaja ditinggikan dan sebuah bangku diletakkan menempel sepanjang dinding. Dari bangku ini penghuni memandang bebas ke arah luar. Dinding miring memungkinkan privasi karena seluruh kegiatan di balik rumah tidak tampak dari luar walaupun jerajak dibiarkan terbuka sepanjang hari. Bukaan dengan posisi miring mampu mengatasi tempias air hujan. Ukurannya cukup lebar sehingga udara dan cahaya alam bebas menerobos masuk ke dalam rumah. Di ruang duduk dan dapur, salah satu bagian atap dapat berfungsi sebagai sky light, cukup dengan cara mendorongnya ke arah luar lalu menopang nya dengan tongkat dari dalam.

Biaya pemeliharaan sebuah rumah adat sangatlah besar karena membutuhkan perawatan dan bahan-bahan khusus. Untuk mempertahankan keaslian dan kelestarian Omo Hada, para pemilik rumah dituntut untuk rutin mengganti atap (Sago) rumah yang berbahan daun rumbia (Metroxylon sagu) setidaknya sekali setiap tahunnya (tergantung ketebalan/sisipan atap rumbia yang digunakan). Kendalanya adalah, penggantian atap rumbia ini tidak bisa sekaligus dilakukan, harus dengan cara penyisipan/penggantian di beberapa bagian yang sudah lapuk. Sebuah Omo Hada membutuhkan setidaknya 5000 (lima ribu) nga’ela (helai) atap rumbia dengan harga bervariasi antara Rp.1.500-2.500 per helainya. Atap hanyalah salah satu komponen dalam rumah adat yang perlu diperhatikan perawatannya, selain penggantian papan lantai  (fafa gahembato) dan dinding, Ehomo (tiang penyangga), Ndriwa (tiang pondasi) dan struktur rumah lainnya yang keseluruhan berbahan kayu dengan biaya puluhan juta rupiah

Omo Hada di Nias sebagian besar terletak di daerah pegunungan yang aksesnya susah dijangkau. Tujuan pembangunan Omo Hada di daerah pegunungan di zaman dulu adalah untuk menghindari diri dari serangan musuh. Namun saat ini, lokasi di daerah pegunungan ini menjadi kendala besar bagi para pemilik rumah adat dalam mendapatkan air untuk keperluan rumah tangga. Sehingga seringkali mereka perlu berjalan 500m-1km untuk mendapatkan sumber mata air.  (Dahulu, sebelum adanya jeriken, pengangkutan air ini menggunakan “Asoa” yakni bambu yang telah dilubangi antar ruasnya untuk menampung air).

Proses pembongkaran Omo Hada yang dilakukan oleh salah satu pemiliknya

Mendirikan sebuah rumah adat bukanlah suatu hal yang mudah karena dibutuhkan keahlian khusus dan ketekunan dalam melakoninya. Salah satu kendala dalam pembangunan/rehabilitasi  rumah adat adalah susahnya mendapatkan tukang yang benar-benar ahli dalam pengerjaan struktur kayu pada Omo Hada. Salah satu tukang yang mampu menjawab kendala ini adalah Kasman Larosa yang bertempat tinggal di Desa Helefanikha Kecamatan Gunungsitoli Idanoi yang baru saja mendirikan sebuah Omo Hada.

Proses pembangunan Omo Hada yang membutuhkan keahlian dan ketrampilan khusus.

Perlu adanya solusi dan strategi yang lebih tepat agar masyarakat pemilik rumah adat tidak selamanya tergantung pada bantuan yang diberikan oleh pemerintah untuk mempertahankan kelestarian rumah adat tradisional di Pulau Nias.

Tradisi Lompat Batu di Nias

Tari Lompat batu suku niasTradisi yang berasal dari Suku Nias yang tinggal di Pulau Nias sebelah barat Pulau Sumatera ini memang terbilang unik.  Lompat batu atau yang dikenal dengan nama “fahombo batu” sudah menjadi ciri khas masyarakat Nias.

Tradisi melompati batu yang disusun hingga mencapai ketinggian 2 m dan ketebalan 40 cm ini hanya dilakukan oleh kaum laki-laki. Tidak semua masyarakat Suku Nias melakukan tradisi ini. Hanya mereka yang berada di Nias Selatan khususnya di daerah Teluk Dalam yang melakukan tradisi akrobatik ini. Hal tersebut disinyalir karena perbedaan budaya nenek moyang atau leluhur masyarakat Nias.

Terlepas dari aspek pariwisata sehingga tradisi Lompat Batu menjadi begitu terkenal, tradisi ini juga menunjukan kekuatan dan ketangkasan para pemuda yang melakukannya. Seseorang yang berhasil melakukan tradisi ini dianggap heroik dan prestisius. Tidak hanya bagi individu yang melakukannya, melainkan juga bagi keluarga orang tersebut, bahkan seluruh masyarakat desa. Oleh karena itu biasanya setelah anak laki-laki berhasil melakukan tradisi ini, akan diadakan syukuran sederhana dengan menyembelih ayam atau hewan lainnya. Orang yang berhasil melakukan tradisi ini juga akan dianggap matang dan menjadi pembela kampungnya jika ada konflik dengan warga desa lain.

Karena begitu tingginya tingkat prestisius dari tradisi ini, maka setiap pemuda dalam masyarakat Nias melakukan latihan sejak berumur 7 tahun. Sesuai pertumbuhan anak tersebut, mereka akan terus berlatih melompati tali dengan ketinggian yang terus bertambah sesuai usia. Akhirnya, latihan tersebut akan dibuktikan pada tradisi Lompat Batu ini.Tidak semua pemuda dapat melakukan tradisi lompat batu ini, meskipun sudah berlatih sejak lama. Banyak orang yang percaya bahwa selain latihan, ada unsur magis dimana seseorang yang berhasil melompati batu dengan sempurna, maka mereka telah diberkati oleh roh leluhur dan para pelompat batu sebelumnya yang sudah meninggal.

Belum jelas darimana dan mengapa tradisi ini berasal, namun beberapa masyarakat setempat menggambarkan bahwa tradisi ini berawal dari zaman dahulu saat ketangkasan melompat batu sangat dibutuhkan oleh Suku Nias. Dahulu setiap desa dipagar dan dibentengi oleh batu sebagai pertahanan. Oleh karena itu dibutuhkan keahlian ini untuk melarikan diri atau dapat memasuki desa sasaran.

Selain mengangkat derajat seseorang yang telah berhasil melompat batu, pemuda yang berhasil melakukan tradisi ini akan dianggap dewasa dan matang secara fisik. Oleh karena itu hak dan kewajiban sosial mereka sebagai manusia dewasa sudah bisa dijalankan. Cara ini juga terkadang dilakukan untuk mengukur kematangan seseorang untuk menikah.Tradisi Lompat Batu ini memang cukup unik dan menarik dan menjadi ciri khas Suku Nias. Tidak hanya itu, tradisi Lompat Batu ini juga menjadi kebanggan Indonesia karena merupakan keunikan dan kekayaan yang bersemayam di bumi pertiwi ini.

Tari Maena

tari maena suku niasSuku Nias merupakan kelompok masyarakat yang tinggal di Pulau Nias, propinsi Sumatera Utara. Mereka memiliki sebuah tarian tradisional yang sejak dulu hingga kini tetap ditarikan yakni tari Maena. Suku Nias menjadikan tari Maena sebagai tarian kolosal yang penuh sukacita. Tari Maena seringkali menjadi pertunjukan hiburan ketika suku Nias menyelenggarakan pesta pernikahan adat. Dalam upacara pernikahan adat, pertunjukan tari Maena diselenggarakan ketika mempelai lelaki tiba di rumah mempelai wanita. Tarian ini ditarikan oleh keluarga dari pihak mempelai lelaki untuk memuji kecantikan mempelai wanita dan kebaikan keluarga pihak wanita. Setelah mempelai lelaki, keluarga dari mempelai wanita pun menyambut kedatangan keluarga pihak lelaki dengan menyelenggarakan tari Maena.

 Tarian ini menjadi simbol untuk memuji mempelai lelaki beserta keluarganya. Sesekali, Tari Maena menjadi tari penyambutan tamu kehormatan yang berkunjung ke Pulau Nias. Dalam sebuah pertunjukan, tari Maena ditarikan oleh beberapa pasang penari lelaki dan wanita. Dari awal hingga pertunjukan usai, gerakan tari Maena didominasi dengan perpaduan gerak tangan dan kaki. Gerakannya terlihat sederhana namun tetap penuh semangat dan dinamis. Kesederhanaan gerak itulah yang membuat siapa saja termasuk anda dapat menjadi penari tari Maena. Tidak ada batasan berapa jumlah penari Maena. Semakin banyak peserta tari Maena, gerakan tari Maena semakin terlihat semangat.Daya tarik utama dari tari Maena yakni lantunan beberapa rangkaian pantun Maena. Pantun Maena disampaikan oleh satu atau dua orang pemain yang dalam bahasa Nias disebut Sanutuno Maena. Tidak semua orang dapat menjadi Sanutuno Maena. Seorang Sanutuno Maena harus fasih berbahasa Nias. Biasanya, yang menjadi Sanutuo Maena yakni tetua adat atau sesepuh suku Nias. Isi pantun disesuaikan dengan waktu pertunjukan tari Maena dipertunjukkan. Ketika tari Maena diselenggarakan pada pesta pernikahan, pantun biasanya berisi kegembiraan dan doa untuk kedua mempelai. Namun ketika tari Maena dijadikan tari penymbuta tamu kehormatan, pantun Maena menggambarkan rasa hormat warga Nias kepada tamu. Pantun Maena biasanya disampaikan pada awal pertunjukan. Setelah Sanutuo Maena menyampaikan beberapa bait pantun, pertunjukan tari Maena dilanjutkan dengan nyanyian berbahasa Nias. Dengan lantang, para penari Maena menyanyikan beberapa syair lagu yang isinya disesuaikan dengan tema acara. Mulai dari awal penyampaian, lirik lagu dalam pertunjukan tari Maena tetaplah sama dan disampaikan secara berulang. Syair lagu itulah yang mengiringi gerakan para penari Maena hingga pertunjukan tari Maena usai.

 Tari Perang

tari perang suku niasSejumlah prajurit perang suku Nias mengacungkan tombak pada pagelaran kesenian tari perang di Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara.Tarian ini digunakan para leluhur untuk meningkatkan semangat penduduk desa sebelum berperang dengan desa lain, tarian ini sangat prestisius, dalam kehidupan para lelaki desa, karena melambangkan perubahan status dari lelaki remaja menjadi seorang dewasa.

 

Sumber            : http://www.wikipedia.com

About sugiono geger

History Teacher in SMA Negeri I Geger Madiun East Java

2 responses »

  1. TERESIA mengatakan:

    maunya lebih di lengkapi lagi supaya lebih jelas

  2. Sugiono Geger mengatakan:

    okey trim’s atas kunjungannya mbak Teresia, lain kali Insyaallah akan dilengkapi kalau ada waktu

Silahkan Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s