Masuknya Islam ke Maluku erat kaitannya dengan kegiatan perdagangan. Pada abad ke-15, para pedagang dan ulama dari Malaka dan Jawa menyebarkan  Islam di sana. Dari sini muncul empat kerajaan Islam di Maluku yang disebut

Maluku Kie Raha (Maluku Empat Raja) yaitu Kesultanan Ternate yang, Kesultanan Tidore yang dipimpin, Kesultanan Jailolo, dan Kesultanan Bacan yang dipimpin oleh. Pada masa kesultanan itu berkuasa, masyarakat muslim di Maluku sudah menyebar sampai ke Banda, Hitu, Haruku, Makyan, dan Halmahera. Kerajaan Ternate dan Tidore yang terletak di sebelah Pulau Halmahera (Maluku Utara) adalah dua kerajaan yang memiliki peran yang menonjol dalam menghadapi  kekuatan-kekuatan asing yang mencoba menguasai Maluku. Dalam perkembangan selanjutnya, kedua kerajaan ini bersaing memperebutkan hegemoni politik di kawasan Maluku. Kerajaan Ternate dan Tidore merupakan daerah penghasil rempah-rempah, seperti pala dan cengkeh, sehingga daerah ini menjadi pusat perdagangan rempah-rempah

 a. Kerajaan TernaTe
Secara geografis kerajaan ternate terletak di kepulauan Halmehera (Maluku Utara). Kekuasaan kerajaan Ternate saat itu adalah
wilayah Maluku, Gorontalo,dan Banggai di Sulawesi, dan sampai ke Flores dan Mindanao. Raja ternate pertama saat itu adalah Gapi Baguna / Datuk Maulana Husin (1465-1485). Setelah wafat digantikan putranya Zainal Abidin, kemudian mewakilkan kepada keluarganya (1495) karena dia memperdalam agama Islam pada Sunan Giri dan kemudian ke Malaka. Zainal Abidin hanya memerintah sampai tahun 1500, kemudian digantikan oleh sultan Sirullah, Sultan Khairun, dan Sultan Baabullah. Kerajaan Ternate mencapai puncak kejayaannya pada masa Sultan Baabullah, karena dia berhasil mengusir Portugis dari
Ternate. Kedatangan bangsa portugis di kepulauan Maluku bertujuan untuk menjalin perdagangan dan mendapatkan rempah-rempah. Bangsa Portugis juga ingin mengembangkan agama katholik. Bahwa sebagian dari daerah maluku terutama Ternate sebagai pusatnya, sudah masuk agama islam. Oleh karena itu, tidak jarang perbedaan agama ini dimanfaatkan oleh
orang-orang Portugis untuk memancing pertentangan antara para pemeluk agama itu. Dan bila pertentangan sudah terjadi maka pertentangan akan diperuncing lagi dengan campur tangannya orang-orang Portugis dalam bidang pemerintahan, sehingga merekalah yang dianggap berkuasa. Dibawah pemerintah Sultan Baabullah, dia dapat mengusir Portugis dan dibawah pemerintahannya pula kekuasaan Kerajaan Ternate semakin meluas hingga meliputi seluruh kepulauan Maluku, Papua, Timor, Mindanao dan Philipina.

b. Kerajaan Tidore
Kerajaan Tidore terletak di sebelah selatan Kerajaan Ternate. Wilayah Maluku bagian
timur dan pantai-pantai Irian (Papua) merupakan daerah kekuasaan kerajaan Tidore.
Raja kerajaan Tidore adalah Syahdati/Muhammad Naqal (1081). Agama Islam mulai
masuk Tidore sejak adanya dakwah dari Syekh Mamsur yang berasal dari Arab. Raja jailolo naik tahta dan mengganti nama menjadi Sultan Hasanuddin.
Pada awalnya Tidore dan Ternate hidup secara damai dan berdampingan. Semenjak datangnya bangsa Eropa terjadilah persaingan diantara dua kerajaan tersebut karena menewarkan rempah-rempah. Pada tahun 1529 portugis dibantu oleh Ternate dan Bacan menyerbu Tidore yang dibantu oleh Spanyol. Pada saat itu Portugis menang menguasai rempah-rempah di Maluku. Kerajaan Tidore mengalami kejayaan pada saat pemerintahan Sultan Nuku (1789-1805). Sultan Nuku dapat mempersatukan Tidore dan Ternate, selain itu dia juga berhasil mengadu domba antara Belanda dan Inggris, sehingga Belanda dapat diusir dari Tidore. Sejak saat itu bangsa Eropa tidak lagi mengganggu kerajaan Tidore. Sultan Nuku turun Tahta dan digantikan adiknya sendiru yaitu Zainal Abidin (1805- 1810).

c. Kerajaan Tidore dan Kerajaan TernaTe
¤ Letak kerajaan
Secara geografis kerajaan ternate dan tidore terletak di Kepulauan Maluku, antara sulawesi dan irian jaya letak terletak tersebut sangat strategis dan penting dalam dunia perdagangan masa itu. Pada masa itu, kepulauan maluku merupakan penghasil rempah rempah terbesar sehingga di juluki sebagai “The Spicy Island”. Rempah-rempah menjadi komoditas utama dalam dunia perdagangan pada saat itu, sehingga setiap pedagang maupun bangsa-bangsa yang datang dan bertujuan ke sana, melewati rute perdagangan tersebut agama islam meluas ke maluku, seperti Ambon, ternate, dan tidore. Keadaan seperti ini, telah mempengaruhi aspek-aspek kehidupan masyarakatnya, baik dalam bidang politik, ekonomi, social, dan budaya.

¤ Kehidupan politiK
Di kepulauan maluku terdapat kerajaan kecil, diantaranya kerajaan ternate sebagai pemimpin Uli Lima yaitu persekutuan lima bersaudara. Uli Siwa yang berarti persekutuan sembilan bersaudara. Ketika bangsa portugis masuk, portugis langsung memihak dan membantu ternate, hal ini dikarenakan portugis mengira ternate lebih kuat. Begitu pula bangsa spanyol memihak tidore akhirnya terjadilah peperangan antara dua bangsa kulit, untuk menyelesaikan, Paus turun tangan dan menciptakan perjanjian saragosa. Dalam perjanjian tersebut bangsa spanyol harus meninggalkan maluku dan pindah ke Filipina sedangkan Portugis tetap berada di Maluku.

¤ Kehidupan ekonomi
Tanah di Kepulauan maluku itu subur dan diliputi hutan rimba yang banyak memberikan hasil diantaranya cengkeh dan di kepulauan Banda banyak menghasilkan pala. Pada abad ke 12 M permintaan rempah-rempah meningkat, sehingga cengkeh merupakan komoditi yang penting. Pesatnya perkembangan perdagangan keluar dari maluku mengakibatkan terbentuknya persekutuan. Selain itu mata pencaharian perikanan mendukung perekonomian si masyarakat. ¤ Kehidupan social
Kedatangan bangsa portugis di kepulauan Maluku bertujuan untuk menjalin perdagangan dan mendapatkan rempah-rempah. Bangsa Portugis juga ingin mengembangkan agama katholik. Dalam 1534 M, agama Katholik telah mempunyai pijakan yang kuat di Halmahera, Ternate, dan Ambon, berkat kegiatan Fransiskus Xaverius. Seperti sudah diketahui, bahwa sebagian dari daerah maluku terutama Ternate sebagai pusatnya, sudah masuk agama islam. Oleh karena itu, tidak jarang perbedaan agama ini dimanfaatkan oleh orang-orang Portugis untuk memancing pertentangan antara para pemeluk agama itu. Dan bila pertentangan sudah terjadi maka pertentangan akan diperuncing lagi dengan campur tangannya orang-orang Portugis dalam bidang pemerintahan, sehingga seakan-akan merekalah yang berkuasa. Setelah masuknya kompeni Belanda di Maluku, semua orang yang sudah memeluk agama Katholik harus berganti agama menjadi Protestan. Hal ini menimbulkan masalah-masalah sosial yang sangat besar dalam kehidupan rakyat dan semakin tertekannya kehidupan rakyat. Keadaan ini menimbulkan amarah yang luar biasa dari rakyat Maluku kepada kompeni Belanda. Di Bawah pimpinan Sultan Ternate, perang umum berkobar, namun perlawanan tersebut dapat dipadamkan oleh kompeni Belanda. Kehidupan rakyat Maluku pada zaman kompeni Belanda sangat memprihatinkan sehingga muncul gerakan menentang Kompeni Belanda.

¤ Kehidupan budaya
Rakyat Maluku, yang didominasi oleh aktivitas perekonomian tampaknya tidak begitu banyak mempunyai kesempatan untuk menghasilkan karya-karya dalam bentuk kebudayaan. Jenis-jenis kebudayaan rakyat Maluku tidak begitu banyak kita ketahui sejak dari zaman berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam seperti Ternate dan Tidore. ¤ AwAl mulA persAingAn AntArA tidore & ternAte Semula kerjaan Tidore dan Ternate hidup secara damai dan berdampingan. Semenjak datangnya bangsa Eropa terjadilah persaingan diantara dua kerajaan tersebut karena menewarkan rempah-rempah. Persaingan di antara kerajaan Ternate dan Tidore adalah dalam perdagangan. Dari persaingan ini menimbulkan dua persekutuan dagang, masing-masing menjadi pemimpin dalam persekutuan tersebut, yaitu :
1. Uli-Lima (persekutuan lima bersaudara)
Dipimpin oleh Ternate meliputi Bacan, Seram, Obi, dan Ambon. Pada masa Sultan Baabulah, Kerajaan Ternate mencapai aman keemasan dan disebutkan daerah kekuasaanya meluas ke Filipina.

2. Uli-Siwa (persekutuan sembilan bersaudara)
Dipimpin oleh Tidore meliputi Halmahera, Jailalo sampai ke Papua. Kerajaan Tidore mencapai masa keemasan dibawah pemerintahan Sultan Nuku.

Kesimpulan
Masuknya Islam ke Maluku erat kaitannya dengan kegiatan perdagangan. Pada abad ke-15, para pedagang dan ulama dari Malaka dan Jawa menyebarkan Islam ke sana. Dari sini muncul empat kerajaan Islam di Maluku yang disebut Maluku Kie Raha (Maluku Empat Raja) yaitu Kesultanan Ternate yang dipimpin Sultan Zainal Abidin (1486-1500), Kesultanan Tidore yang dipimpin oleh Sultan Mansur, Kesultanan Jailolo yang dipimpin oleh Sultan Sarajati, dan Kesultanan Bacan yang dipimpin oleh Sultan Kaicil Buko. Pada masa kesultanan itu berkuasa, masyarakat muslim di Maluku sudah menyebar sampai ke Banda, Hitu, Haruku, Makyan, dan Halmahera. Kerajaan Ternate dan Tidore yang terletak di sebelah Pulau Halmahera (Maluku Utara) adalah dua kerajaan yang memiliki peran yang menonjol dalam menghadapi kekuatan-kekuatan asing yang mencoba menguasai Maluku. Dalam perkembangan selanjutnya, kedua kerajaan ini bersaing memperebutkan hegemoni politik di kawasan Maluku. Kerajaan Ternate dan Tidore merupakan daerah penghasil rempah-rempah, seperti pala dan cengkeh, sehingga daerah ini menjadi pusat perdagangan remah-remah.

About these ads

Tentang Sugiono Geger

History Teacher in SMA Negeri I Geger Madiun East Java

Silahkan Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s