Aceh semula sebuah bandar di ujung utara Pulau Sumatera terletak pada pantai yang landai. Di sebelah utara dan barat terbuka Samudera Hindia dan di sebelah timur menghadap ke Selat Malaka. Aceh adalah bandar paling utara di kawasan Selat Malaka, oleh karena itu merupakan tempat pertama yang dikunjungi para pedagang asing. Kerajaan Aceh berdiri menjelang keruntuhan Samudera Pasai.

Sebagaimana tercatat dalam sejarah, padatahun 1360 M, Samudera Pasai ditaklukkan oleh Majapahit, dan sejak saat itu, kerajaanSamudera Pasai terus mengalami kemunduran. Diperkirakan, menjelang berakhirnya abad ke-14 M, kerajaan Aceh Darussalam telah berdiri dengan penguasa pertama Sultan Ali Mughayat Syah yang dinobatkan pada Ahad, 1 Jumadil Awal 913 H (1511 M) .

 Pada tahun1524 M, Mughayat Syah berhasil menaklukkan Samudera Pasai, dan sejak saat itu, menjadi satu-satunya kerajaan yang memiliki pengaruh besar di kawasan tersebut. Bisa dikatakan bahwa, sebenarnya kerajaan Aceh ini merupakan kelanjutan dari Samudera Pasai untuk membangkitkan dan meraih kembali kegemilangan kebudayaan Aceh yang pernah dicapai sebelumnya.

Semangat orang-orang Aceh merupakan faktor yang menyebabkan kerajaan itu menjadi sebuah kerajaan kuat dan masyhur. Semangat mereka dilandasi oleh semangat Islam, yang mereka anut secara sungguh-sungguh.Pada abad ke-17 Aceh mengalami masa keemasan dan menjadi kerajaan yang kuat dibawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636). Pada masa itu wilayah kerajaan Aceh telah luas, meliputi Sumatera Barat dan Sumatera Utara.

Pada masa kepemimpinannya, Aceh telah berhasil memukul mundur kekuatan Portugis dari selat Malaka. Kejadian ini dilukiskan dalam La Grand Encyclopedie bahwa pada tahun 1582, bangsa Aceh sudah meluaskan pengaruhnya atas pulau-pulau Sunda (Sumatera, Jawa dan Kalimantan) serta atas sebagian tanah Semenanjung Melayu. Selain itu Aceh juga melakukan hubungan diplomatik dengan semua bangsa yang melayari Lautan Hindia. Pada tahun 1586, kesultanan Aceh melakukan penyerangan terhadap Portugis di Melaka dengan armada yang terdiri dari 500 buah kapal perang dan 60.000 tentara laut. Serangan inidalam upaya memperluas dominasi Aceh atas Selat Malaka dan Semenanjung Melayu. Walaupun Aceh telah berhasil mengepung Melaka dari segala penjuru, namun penyerangan ini gagaldikarenakan adanya persekongkolan antara Portugis dengan kesultanan Pahang Dalam lapangan pembinaan kesusasteraan dan ilmu agama, Aceh telah melahirkan beberapa ulama ternama, yang karangan mereka menjadi rujukan utama dalam bidang masing-masing, seperti Hamzah Fansuri dalam bukunya Tabyan Fi Ma’rifati al-U Adyan, Syamsuddin al-Sumatrani dalam bukunya Mi’raj al-Muhakikin al-Iman, Nuruddin Al-Raniri  dalam bukunya Sirat al-Mustaqim, dan Syekh Abdul Rauf Singkili dalam bukunya Mi’raj al-Tulabb Fi Fashil.

Perang Aceh;

Perang Aceh dimulai sejak Belanda menyatakan perang terhadap Aceh pada 26 Maret 1873 setelah melakukan beberapa ancaman diplomatik, namun tidak berhasil merebut wilayah yang besar. Perang kembali berkobar pada tahun 1883, namun lagi-lagi gagal, dan pada 1892 dan 1893, pihak Belanda menganggap bahwa mereka telah gagal merebut Aceh. Dr. Christiaan Snouck Hurgronje , seorang ahli Islam dari Universitas Leiden yang telah berhasil mendapatkan kepercayaan dari banyak pemimpin Aceh, kemudian memberikan saran kepada Belanda agar serangan mereka diarahkan kepada para ulama, bukan kepada sultan. Saran ini ternyata berhasil. Pada tahun 1898, Joannes Benedictus van Heutsz dinyatakan sebagai gubernur Aceh, dan bersama letnannya, Hendrikus Colijn, merebut sebagian besar Aceh.

Sultan Muhammad Daud akhirnya menyerahkan diri kepada Belanda pada tahun 1903 setelah dua istrinya, anak serta ibundanya terlebih dahulu ditangkap oleh Belanda. Kesultanan Aceh akhirnya jatuh seluruhnya pada tahun 1904. Saat itu, hampir seluruh Aceh telah direbut Belanda.

Awal kehancuran kerajaan aceh;

Masa Pemerintahan Sulthan Alaiddin Mahmud Syah, Kerajaan Belanda mengultimatum Kerajaan Aceh tertanggal 26 maret 1873 dengan diikuti pengiriman tentaranya untuk menyerang Kerajaan Aceh, sehingga pertempuran dua (2) Negara pun tak bisa dielakkan. Kerajaan Aceh pun dengan segala upaya mempertahankan kedaulatannya, baik melalui pertahanan maupun dengancara diplomasi.Dengan pertahanan, Prajurit Kerajaan Aceh mampu menewaskan Panglima perang tentara Belanda yakni : Jenderal Mayor J.H.R Kohler. Di bidang diplomasi Kerajaan Aceh pun mengirim utusan ke Kerajaan Ottoman Turki Usmani serta mengadakan diplomasi ke Amerika Serikat melalui konsulnya di Singapura. Setelah gagal dalam Invansi pertama, Kerajaan Belanda menyiapkan Invansi kedua untuk membumi-hanguskan Kerajaan Aceh agar takluk di bawah pemerintahan Ratu Belanda. Rakyat Aceh yang beragama Islam dengan semangat Jihad fi sabilillah tetap mempertahankan Kedaulatan Negaranya Dalam invansi kedua ini, pasukan Belanda mampu merebut “Dalam” yakni Istana Daruddonya, akhirnya Sulthan Alaiddin Mahmud Syah terpaksa menyingkir dari dalam. Dengan keyakinan tinggi untuk tetap berdaulat, Sulthan Aceh dengan ilmu kenegaraannya yang sudah diakui dunia memindahkan pusat pemerintahan (Ibu kota) ke Indra Puri hingga pada tahun 1874 beliau meninggal di Samahani karena wabah kolera yang sengaja didatangkan oleh tentara Belanda dan dimakamkan di Samahani tepatnya di Desa Tumbo Baro Kec. Kuta Malaka Kab. Aceh Besar. Setelah baginda Sulthan Alaiddin Mahmud Syah wafat, Para pembesar Kerajaan Aceh mengangkat Tuanku Muhammad Daud pengganti beliau, sehingga Tuanku Muhammad Daudbergelar Sulthan Alaiddin Muhammad daud Syah. Karena Sulthan Alaiddin Muhammad Daud Syah masih sangat muda, maka ditetapkan Tuanku Hasyim Banta Muda sebagai pemangku sulthan. Untuk menampakkan masih adanya Pemerintahan yang sah di Kerajaan Aceh kepada Dunia Internasional, maka sesuai dengan hukum adat Aceh ditabalkanlah Tuanku Muhammad Daud menjadi sulthan Aceh di Mesjid Indra Puri pada tahun 1878 dengan pesta rakyat yang sangat meriah. Panglima perang Belanda di Aceh “Van Swieten” mendengar adanya penambalan sulthan Aceh sangat marah, karena keinginan Pemerintahan Belanda untuk menggantikan posisi Sulthan Alaiddin Mahmud Syah yang telah meninggal gagal total. Dengan ditabalnya Tuanku Muhammad Daud sebagai sulthan Aceh, maka beliau berhak menyandang gelar Sulthan Alaiddin Muhammad Daud Syah. Di bawah pemerintahan beliau pun Van Swieten denga gencar menyerbu pusat pemerintahan (Ibu Kota), sehingga Ibu Kota pun terpaksa dipindahkan hingga beberapa kali hingga sampai ke Keumala Dalam. Di Keumala Dalam, Sulthan Alaiddin Muhammad Daud Syah mengangkat Tgk. Chik Muhammad Saman di Tiro sebagai Panglima tertinggi fi sabilillah Kerajaan Aceh untuk mengusir Pasukan Kerajaan Belanda hingga Tgk. Muhammad Saman meninggal karena diracuni oleh seorang janda yang telah diupah oleh tentara Belanda tahun 1891 sehingga untuk menggantikannya diangkatlah anaknya Tgk. Muhammad Amin (makamnya ada di Tiro) dengan gelar Tgk. Chik Muhammad Amin di Tiro sebagai pemimpin pasukan fi sabilillah dengan persetujuan Sulthan Alaiddin Muhammad Daud Syah. Dengan taktik dan siasat busuk yang dilakukan oleh tentara Belanda dengan menangkap anak sulthan Aceh dan istrinya yakni : Tuanku Raja Ibrahim dan 2 istrinya Teungku Putroe GamboGadeng dan Pocut Morong pada tahun 1902. Sehingga denga adanya tekanan dari pihak Belanda, Sulthan Alaiddin Muhammad Daud Syah terpaksa menyerah setelah bermusyawarah dengan para pembesar Kerajaan Aceh setelah mengamanahkan stempel “Tjap sikeureung” kepada Tgk Chik di Tiro yang saat itu disandang oleh Tgk. Chik Muhammad Amin di Tiro. Ini jelas terbukti bahwa ketika Sulthan menanda-tangani surat penyerahan tanpa tanpa dibubuhi stempel “Tjap sikeureung” yang merupakan stempel resmi kerajaan Aceh.Walaupun Sulthan telah menyerah, namun pihak pembesar Kerajaan lainnya bersama dengan Tgk. Chik Muhammad Amin di Tiro tetap mengadakan perlawanan terhadap penjajahan Belanda terhadap Negara Aceh. Sehingga Sulthan Alaiddin Muahammad Daud Syah diasingkan ke Batavia. Lagi-lagi dengan tekad yang tinggi untuk mengembalikan kedaulatan Kerajaan Aceh kembali seperti semula, Sulthan Alaiddin Muhammad Daud Syah mengirim surat kepada kepada Kaisar Jepang ketika masih berada di KUTA RADJA. Ini terbukti ketika tentara Belanda menggeledah rumah kediaman Sulthan, sehingga beliau diasingkan lagi ke Ambon. Lagi-lagi Sulthan membuat onar dengan menggerakkan para para nelayan dan pengrajin cengkeh di Ambon yang keturunan Bugis (Sulthan Aceh sendiri keturunan Bugis) untuk mengadakan perlawanan. Karena kekhawatiran dari pihak Belanda, sehingga Sulthan ALaiddin Muhammad Daud Syah dipindahkan lagi ke Batavia hingga beliau meninggal tahun 1939 dan dimakamkan TPU (tempat pemakaman umum) Rawamangun-Jakarta Timur. Setelah beliau wafat, kekuatan politik yang tidak menentu karena adanya orang berpendidikan luar yang telah terpengaruh dengan sistem Kolonial dan mempunyai kekuatan karena memegang Jabatan sebagai Ketua Umum PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh), dengan serta merta menggabungkan ACEH ke dalam NKRI. Karena suatu jabatan yang dijanjikan yakni Gubernur Militer, ketika Kebijakan NKRI yang menggabungkan Aceh ke dalam Provinsi Sumatera Timur (Ibukotanya Medan). Beliau (sang pengkhianat Negara/Kerajaan Aceh) mengangkat kembali senjata dengan dalih Soekarno tak menepati janji, sehingga terjadi DI/TII Aceh karena kerakusan mereka terhadap jabatan. Di lain pihak, yakni Tuanku Raja Ibrahim (anak Sulthan Alaiddin Muhammad Daud Syah) tidak meneriakkan lagi akan hak waris tahta Negara Aceh walaupun harus hidup menderita. ~Selamatlah mereka yang tidak mengejar kekuasaan, karena kekuasaan hanya membawa petaka Peninggalan kerajaan Aceh MoKI, Pulau Aceh-Peninggalan sejarah tentang Masa jayanya Kerajaan Aceh Darussalam yang dpimpin oleh Raja Sultan Iskandar Muda masih ada berbekas di Pulau Breuh Kecamatan Pulau Aceh Kabupaten Aceh Besar. Bentuk kerja sama antara Kerajaan Aceh Darussalam dan Kerajaan Portugis adalah berupa Menara Suar yang didirikan pada abad ke 17 untuk kelancaran transportasi laut kala itu dan Menara Suar tersdebut adalah Menara Suar yang pertama kali ada di Pulau  Sumatera (andalas). Pada saat kepemimpinan Sultan Iskandar Muda Negara Kerajaan Aceh Raya Darussalam merupakan pengekpor beras keluar wilayah, bukan hanya itu saja, ia juga memperketat pajak kelautan bagi kapal kapal asing yang berlabuh/singgah di daratan kekuasaan beliau, serta mengatur kembali pajak perdagangan (pada saat itu terdapat banyak sekali pedagang yang berasal dari luar asia yaitu pedagang dari inggris dan belanda) serta pengaturan terhadap harta kapal yang karam dikawasan perairan Negara Kerajaan Aceh Raya Darusslam.Dalam hal kemiliteran Iskandar Muda membangun angkatan perang yang sangat kuat, salah seorang peneliti/saudagar yang berada di Kerajaan Aceh Raya Darussalam Beaulieu pada masa itu membuat catatan bahwa dalam hal kemiliteran terdapat beberapa kelompok pasukan yang dibagi menjadi, pasukan darat (angkatan Darat) yang memiliki 40 ribu personel bala tentara, Armada Laut (angkatan Laut) diperkirakan memiliki 100-200 kapal. Diantaranya:Kapal yang berdiameter 30 meter dengan kapasitas awak kapal 300-600 penumpang dengan dilengkapi 3 meriam Bukan hanya itu saja Sultan Iskandar Muda juga mempekerjakan seorang yang berasal dari negeri belanda sebagai penasihat perang Kerajaan Aceh Raya Darussalam mahir dalam taktik peperangan ala negeri belanda dan perancis, Iskandar Muda sangat perhatian terhadap kemiliteran Negara KerajaanAaceh Raya Darussalam sehingga pasukan militer banyak kemajuan dan keberhasilan menaklukkan beberapa kerajaan diantaranya, Kerajaan Johor (1613), Kerajaan Pahang (1618), Kerajaan Kedah (1619) dan Kerajaan Tuah (1620). Bangunan peninggalan bangsa Portugis adalah fakta sejarah kerja sama antara kerajaan Aceh Raya Darussalam dalam hal keselamatan dunia pelayaran kini terlantar, padahal semestinya menjadi asset daerah sebagai salah tujuan wisata kini, dan disekitar situ telah berdiri pula Menara Suar buatan bangsa Belanda yang terbuat dari Beton dengan ketinggia 40 meter yang dibuat masa Belanda menduduki Aceh tahun 1875 (perang Aceh 1873) yang kini dijagga oleh Penjaga Menara Suar dari Distrik Navigasi Kelas II Sabang Direktorat Jendral Perhubungan Laut dari Kementrian Perhubungan.Semestinya Pemerintahan Aceh melalui Dinas Parawisata dan Instansi yang mengurusi tentang sejarah Aceh masa silam telah dari dulu mendatangi lokasi tersebut untuk merawat danmendokumentasikannya sebagai salah satu daerah tujuan wisata andalan dari Kabupaten Aceh Besar. Tetapi fakta yang didapati saat Wartawan mendatangi kelokasi tersebut, bangunan portugis hanya tinggal puing dan tidak pernah ada perawatan dari Pemda baik tingkat I maupun Tingkat II, dari pantauan kami bangunan tersebut telah ditumbuhi oleh tumbuhan yang melekat pada dinding bangunan dan diperkirakan telah berumur puluhan tahun.Menurut keterangan Penjaga Menara Suar, bangunan Portugis itu telah kelihatan menjadi seram dan membuat bulu kuduk merinding apalagi bila malam hari saat-saat jaga malam menjaga Lampu Menara peninggalan Belanda, kami yang Cuma 5 orang bertugas disini menjaga menara ditugaskan dari Distrik Navigasi Kelas II Sabang belum pernah ada didatangi oleh tamu dari Pejabat Propinsi maupun Kabupaten untuk melihat fakta sejarah ini, tandasnya.Kalau tentang perawatan bagunan kami tidak dapat melakukannya tetapi kalau hanya membabat hutan disekitar jalan dari bawah dermaga hingga naik keatas ini sekitar 5 kiloan meter sudah menjadi kegiatan rutin kami selaku penjaga menara, padahal bangunan menara suar yang kami jaga saja umurnya telah ratusan tahun, bayangkan dibagun tahun 1875 namun hingga kini masih dapat diaktifkan, jadi kami tidak mampu untuk merawat dan memelihara bagunan portugistersebut, ujarnya. Harapan kami selaku penjaga menara kiranya Pemerintahan Aceh dapat memelihara bangunan fakta sejarah tersebut, jangan sampai terlindas dengan pembagunan yang telah direncanakan oleh BPKS sebab Pulau Breueh adalah bagian dari Free Port Sabang yang tertuamg dalam UU. No. 11 Tentang Pemerintahan Aceh.Ujung Pineng Pulau Breueh Kecamatan Pulau Aceh merupakan daerah Kepulauan yang telah cukup tua dan pernah mengalami pembagunan di abad ke 17, namun kini bila dibandingkan dengandaerah lainnya yang ada di Aceh sangat merosot baik dalam hal pemabangunan maupun dunia pendidikan, ujar penjaga menara.

silsilah raja raja kerajaan aceh darussalam

1. sultan alaidin ali mughayat syah 916-936 H (1511 – 1530 M)

2. sultan salahuddin 939-945 H (1530 – 1539M)

3. sultan alaidin riayat syah II, terkenal dengan nama AL Qahhar 945 – 979 H (1539 -1571M)

4. sultan husain alaidin riayat syah III, 979 – 987 H (1571 – 1579 M)

5. sultan muda bin husain syah, usia 7 bulan, menjadi raja selama 28 hari

6. sultan mughal seri alam pariaman syah,987 H (1579M) selama 20 hari

7. sultan zainal abidin, 987 – 988 H (1579 – 1580 M)

8. sultan aialidin mansyur syah, 989 -995H (1581 -1587M)

9. sultan mugyat bujang, 995 – 997 H (1587 – 1589M)

10. sultan alaidin riayat syah IV, 997 – 1011 H (1589 – 1604M)

11. sultan muda ali riayat syah V 1011 – 1015 H (1604 – 1607M)

12. sultan iskandar muda dharma wangsa perkasa alam syah 1016 – 1045H (1607 -1636M)

13. sultan mughayat syah iskandar sani,1045 – 1050 H (1636 – 1641M)

14. sultanah sri ratu tajul alam safiatuddin johan berdaulat, 1050-1086H (1641 – 1671M)

15. sultanah sri ratu nurul alam naqiatuddin (anak angkat safiatuddin), 1086 – 1088 H (1675-1678 M)

16. sultanah sri ratu zakiatuddin inayat syah (putri dari naqiatuddin) 1088 – 1098 H (1678- 1688M)

17. sultanah sri ratu kemalat syah (anak angkat safiatuddin) 1098 – 1109 H (1688 -1699M)

18. sultan badrul alam syarif hasyim jamalul lail 1110 – 1113 H (1699 – 1702M)

19. sultan perkasa alam syarif lamtoi bin syarif ibrahim. 1113 – 1115H (1702 -1703 M)

20. sultan jamalul alam badrul munir bin syarif hasyim 1115 – 1139 H (1703 – 1726M)

21. sultan jauharul alam imaduddin,1139H (1729M)

22. sultan syamsul alam wandi teubeueng

23. sultan alaidin maharaja lila ahmad syah 1139 – 1147H (1727 – 1735H)

24. sultan alaidin johan syah 1147 – 1174 (1735-1760M)

25. sultan alaidin mahmud syah 1174 -1195 H (1760 – 1781M)

26. sultan alaidin muhammad syah 1195 -1209 H (1781 – 1795M)

27. sultan husain alaidin jauharul alamsyah,1209 -1238 H (1795-1823M)

28. sultan alaidin muhammad daud syah 1238 – 1251 H (1823 – 1836M)

29. sultan sulaiman ali alaidin iskandar syah 1251-1286 H (1836 – 1870 M)

30. sultan alaidin mahmud syah 1286 – 1290 H (1870 – 1874M)

31. sultan alaidin muhammad daud syah, 1290 -…..H (1884 -1903 M)

Sultan alaiddin muhammad daud syah adalah sultan terakhir dari kerajaan aceh darussalam, beliau berjuang dan bergerilya selama 29 tahun dan beliau tidak pernah menyerahkan kedaulatan negaranya kepada pihak belanda. Pada tahun 1903 beliau ditangkap oleh belanda dan diasingkan ke ambon, maluku dan terakhir dipindahkan ke jawa. beliau mangkat dijakarta pada tahun 1939.

Kehidupan Politik

 Aceh berkembang setelah Malaka diduduki Portugis pada 1511. Mengingat sebagian besar para pedagang beragama Islam maka mereka pindah dari Malaka keAceh. Faktor lain adalah jatuhnya Samodera Pasai ke tangan Portugis (1521), sehingga menambah keramaian Aceh. Pada tahun 1530, Aceh melepaskan diri dari Pedir danberdirilah Kerajaan Aceh dengan Sultan Ali Mughayat (1514- 1528) sebagai raja pertama.Kerajaan Aceh mengalami puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Sultan bercita-cita menjadikan Aceh sebagai kerajaan besar dan kuat.Untuk itu, kerajaan-kerajaan di Semenanjung Malaka harus ditaklukkan, yakni Pahang,Kedah, Perlak, Johor dan sebagainya. Pengganti Sultan Iskandar Muda ialah Sultan Iskandar Tani (1636-1641). Setelah itu Aceh terus mengalami kemunduran, karena tidak terdapat sultan yang kuat. KerajaanAceh tidak mampu bersaing dengan Belanda, yang mengusai Malaka pada tahun 1641.

Kehidupan Ekonomi

Kehidupan ekonomi masyarakat Aceh adalah dalam bidang pelayaran danperdagangan. Pada masa kejayaannya, perekonomian berkembang pesat. PenguasaanAceh atas daerah-daerah pantai barat dan timur Sumatra banyak menghasilkan lada.Sementara itu, Semenanjung Malaka banyak menghasilkan lada dan timah. Hasil bumidan alam menjadi bahan ekspor yang penting bagi Aceh, sehingga perekonomian Acehmaju dengan pesat.

 Kehidupan Sosial Budaya

Dalam masyarakat Aceh terdapat dua kelompok sosial yang saling berebut pengaruh yakni Golongan Teuku dan Golongan Tengku. Golongan Teuku adalah kaumbangsawan yang memegang kekuasaan sipil, sedangkan golongan Tengku adalah kaumulama yang memegang peranan penting dalam bidang sosialkeagamaan. Sementara itudi dalam golongan agama terdapat dua aliran yang saling bersaing, yaitu Syiah dan Sunnah wal Jama’ah. Pada masa Sultan Iskandar Muda, aliran Syiah berkembang pesat.

Tokoh aliran ini ialah Hamzah Fansuri, yang kemudian diteruskan oleh Syamsuddin Pasai. Setelah Sultan Iskansar Muda meninggal, aliran Sunnah wal Jama’ah yang berkembang pesat. Tokoh aliran ini adalah Nuruddin ar Raniri yang berhasil menulis sejarah Aceh dengan judul Perkembangan Negara Tradisional di Indonesia 35 Bustanus Salatin, yang berisi adat istiadat Aceh dan ajaran agama Islam. Peninggalan budaya Islam yang cukup menonjol adalah bangunan Masjid Baitturachman yang dibangun pada masa pemerintahn Sultan Iskandar Muda.

About sugiono geger

History Teacher in SMA Negeri I Geger Madiun East Java

2 responses »

  1. Mujiono mengatakan:

    salam kenal kang…

    Aku cah Purworejo Geger… Dalan kidul Kantor Pos Uteran moro ngetan…
    Tp saiki aku lungo neng golek rejeki neng Jakarta

  2. sugiono geger mengatakan:

    Okey mas Mujiono, salam kenal kembali, saya tinggal di Segaran Permai

Silahkan Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s