Ilmu Sejarah kata Roeslan Abdulgani mempunyai penglihatan tiga dimensi yaitu ke masa silam, ke masa sekarang dan ke masa yang akan datang. Peristiwa yang terjadi pada masa yang lalu apabila kita bisa mengambil hikmahnya, dapat kita jadikan pelajaran dan pegangan untuk masa sekarang dan tentunya dapat juga kita gunakan untuk memprediksi langkah-langkah kita pada masa yang akan datang. Dengan mempelajari kejadian yang pernah terjadi atau mengalami kejadian sendiri diharapkan seseorang akan mendapatkan wisdom ( kebijaksanaan ). Sehingga apabila di masa yang lalu kita melakukan kesalahan, atau menemukan kesalahan ,kita tidak akan terjerembab untuk ke-dua kalinya pada kesalahan yang sama, hanya orang bodohlah yang melakukan kesalahan ke-dua atau ke-tiga dalam permasalahan yang sama, kata John seely “ Be Wise after the event “ . Itulah salah satu nilai strategis dalam mempelajari sejarah, yang menurut sebagian orang, sejarah dianggap sebagai ilmu yang tidak mempunyai manfaat bagi peradaban manusia, khususnya dalam bidang pembangunan.Memang banyak orang beranggapan bahwa sejarah itu hanya hafalan, yang hanya mempelajari masa lalu. Sejarah katanya mirip novel, cerpen , roman atau mungkin dongeng pengantar tidur. Sehingga dalam mempelajari mata pelajaran sejarah menjadi tidak menarik dan membosankan. Oleh sebab itu perlu pemikiran bagaimana supaya mata pelajaran sejarah menjadi menarik, berbobot , disukai dan mendapat tempat dihati setiap orang, khususnya para siswa. Salah satu upaya yang harus dilakukan menurut hemat penulis yaitu mengusahakan penggunaan sistem pendekatan kontekstual ( Contextual Teaching and Learning /CTL ) dalam kegiatan belajar mengajar mata pelajaran sejarah.

Apakah pendekatan kontekstual itu ?
Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning /CTL )merupakan konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari – hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat.( Dr. Nurhadi, M.Pd , CTL : 1 ) Dengan konsep ini diharapkan hasil pembelajaran lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil pembelajaran.

Ada tujuh komponen utama dalam pembelajaran Kontekstual yaitu : 1. Konstruktivisme yang dianggap sebagai landasan berpikir pendekatan CTL. Esensi dari teori konstruktivisme adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi komplek ke situasi lain . Menurut teori ini pengetahuan bukanlah seperangkat fakta , konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. 2.Menemukan ( Inquiry ). Menemukan merupakan inti dari kegiatan pembelajaran yang berbasis Kontekstual. Pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan dari hasil mengingat dan menghafal seperangkat fakta, tetapi dari hasil menemukan sendiri dalam proses belajar. 3. Bertanya ( Questioning ) Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari kegiatan bertanya, bisa dikatakan Questioning merupakan cikal bakal dari pembelajaran. 4. Masyarakat Belajar ( Learning Community ) Dalam kelas yang menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning /CTL , guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar . 5. Pemodelan ( Modelling ) maksud Modelling , dalam pembelajaran yang berbasis Contextual Teaching and Learning /CTL adalah bahwa pembelajaran yang menggunakan ketrampilan atau pengetahuan tertentu , ada model atau contoh yang bisa ditiru.. Yang perlu diingat , dalam pembelajaran CTL, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa atau mendatangkan model dari luar. 6. Refleksi ( Reflection ) Komponen CTL selanjutnya yaitu refleksi, yang juga merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis CTL. Refleksi merupakan cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dimasa yang lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajari sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Jadi dalam refleksi ini yang perlu dipikirkan bagaimana pengetahuan itu bisa mengendap di benak siswa . Siswa mencatat apa yang sudah dipelajari dalam memorinya dan bagaimana dapat merasakan dan bisa menerima ide-ide baru. 7. Penilaian yang sebenarnya ( Authentic Assessment ) Assessment merupakan proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran yang benar. Apabila data yang dikumpulkan guru menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan belajar , maka guru segera bisa mengambil tindakan yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut. Sehingga siswa dapat segera mengikuti materi dalam pembelajaran selanjutnya. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan sepanjang proses belajar , maka assessment tidak dilakukan diakhir periode pembelajaran seperti pada kegiatan evaluasi hasil belajar , tetapi dilakukan bersama secara terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran.
Bagaimana penerapan pendekatan Kontekstual dalam mata pelajaran sejarah ?
Obyek yang dipelajari ilmu sejarah adalah peristiwa yang pernah terjadi, sedetik yang lalu apabila peristiwa itu mempengaruhi banyak orang termasuk kajian ilmu sejarah. dan layak dipelajari. Sebenarnya keadaan kita pada hari ini, kalau kita mau jujur pasti berasal dari masa lalu, hari ini ada karena ada masa lampau. Jadi pada prinsipnya antara masa lalu dan hari ini ada hubungan yang tidak bisa dipisahkan.

Pembelajaran Konstektual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan kenyataan hidup sehari-hari. Dengan kata lain pembelajaran kontektual dalam mata pelajaran sejarah berarti mengkaitkan masa lalu ( peristiwa yang pernah terjadi ) dengan dunia nyata saat ini yang dihadapi siswa.

Sebagai gambaran kalau kita membahas peradaban prasejarah di Indonesia ( Materi klas X SMA ), khususnya jaman Megalitikum, tentang konsep punden berundak-undak yang mengatakan bahwa tempat yang paling tinggi merupakan tempat yang paling suci, ternyata konsep ini masih dipakai saat ini, dalam kenyataan hidup sehari-hari siswa bisa melihat arsitektur bangunan masjid di Indonesia yang sebagian menggunakan arsitektur atap tumpang ( bertingkat ). Sehingga dengan kenyataan itu siswa bisa mengkonstruksi pengetahuannya kembali tentang konsep megalitikum dan arsitektur masjid, ternyata arsitektur masjid di Indonesia berbeda dengan negara asalnya, di Indonesia terjadi proses akulturasi ( perpaduan budaya ). Begitu juga kalau kita melihat tata kota di Indonesia khususnya di pulau jawa, kebanyakan masih menggunakan tata kota tradisional yang mengacu pada Mocopat , di mana di tengah ada tanah lapang ( alun-alun ), pusat pemerintahan di sebelah utara alun-alun , tempat ibadah di sebelah barat alun-alun, dan sekeliling lainnya ada pasar dan tempat penjara. Semua konsep lama masih dipakai sampai saat ini.

Dalam menggunakan metode Inquiri yang menjadi inti dalam pembelajaran Kontekstual , pembelajaran Sejarah bisa diarahkan ke kegiatan untuk membuat atau mengerjakan sendiri, misalnya ketika membahas materi kerajaan hindu-budha di Indonesia ( kelas XI IPS semester I SMA ), setelah membaca materi siswa bisa membuat sendiri bagan silsilah raja-raja Majapahit, sehingga bisa mengetahui raja yang mana yang keturunan Raden Wijaya ( pendiri Majapahit ) dan raja mana yang bukan keturunan pendiri majapahit, dari tugas itu juga secara otomatis siswa juga bisa mengetahui terjadinya perebutan kekuasaan ( perang saudara ) yang pernah terjadi, yang pada akhirnya bisa mengetahui perpindahan pusat kerajaan itu ke beberapa kota di Jawa Timur. Atau siswa bisa juga diberi tugas menggali silsilah keluarganya sendiri dari penuturan orang tuanya baik dari keluarga ayah maupun dari keluarga ibunya, sehingga bisa mengetahui cikal bakalnya dan dari mana sebenarnya nenek moyangnya berasal. Masih banyak contoh materi yang bisa menggunakan metode inkuiri ini, yang jelas pembelajaran yang menggunakan metode ini yang perlu dikembangkan yaitu siswa bekerja dan menemukan sendiri akar permasalahan yang dipelajari.

Metode bertanya ( Questioning ) yang merupakan salah satu komponen dari CTL , dapat diterapkan pada semua materi sejarah yang diajarkan. Bahkan hampir pada semua aktifitas belajar sejarah bisa menggunakan Questioning ini misalnya, dalam ceramah variasi guru bisa menyelipkan pertanyaan kepada siswa, ketika diskusi kelompok pasti menggunakan pertanyaan, begitu juga bila ada kerja kelompok, kegiatan bertanya tentu tidak bisa dipisahkan .

Penggunaan konsep Learning Community dalam mata pelajaran sejarah juga sangat baik, sebab dengan cara belajar kelompok akan memudahkan siswa dalam menangkap materi yang sedang dipelajari. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen. Yang pandai mengajari yang lemah, yang sudah menguasai memberi tahu yang belum menguasai, yang cepat menangkap mendorong temannya yang lambat, yang mempunyai gagasan segera memberi usulan dan seterusnya. Dalam “ Masyarakat belajar “ bisa terjadi proses komunikasi dua arah . Seorang guru yang menggunakan metode ceramah murni bukan contoh masyarakat belajar karena komunikasi hanya terjadi satu arah yaitu komunikasi hanya terjadi dari guru kearah siswa. Tetapi penggunaan ceramah yang diselingi tanya jawab yang juga mengadopsi pendapat kelompok-kelompok siswa, termasuk masyarakat belajar. Pada prinsipnya konsep Learning Community menyarankan agar hasil pembelajaran yang diperoleh, merupakan perwujudan proses kerjasama secara timbal balik yang melibatkan kelompok satu dengan kelompok lain, salah satu contoh kongkrit dari konsep Learning Community dalam mata pelajaran sejarah yaitu penggunaan metode diskusi kelompok dalam pembelajaran.

Penggunaan Pemodelan ( modeling ) dalam mempelajari sejarah, bisa diarahkan pada penggunaan metode bermain peran ( sosiodrama ) dalam pembelajaran, misalnya sewaktu membahas materi tentang Proklamasi ( materi klas XI IPA SMA ) guru bisa menunjuk siswa untuk berperan sebagai Ir. Sukarno, Moh. Hatta, Ahmad Subarjo atau tokoh-tokoh muda pada waktu itu. Mereka disuruh bermain peran menjelaskan proses terjadinya proklamasi, mulai dari desakan golongan pemuda untuk segera melaksakan proklamasi yang berimbas pada penculikan Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok, kemudian proses penyusunan teks proklamasi dan bagaimana cara Sukarno berpidato dan membacakan naskah proklamasi di jl. pegangsaan timur 56 Jakarta .
Komponen lain dari pembelajaran CTL yaitu refleksi , juga sangat cocok digunakan pada pembelajaran sejarah. Siswa dapat diberi tugas menganalisis peristiwa sejarah di masa lalu, apa segi positifnya dan apa segi negatifnya, dan bagaimana kesimpulannya. Sehingga apabila menemui permasalahan yang sama atau hampir sama akan lebih bijak dalam menghadapinya, misalnya sewaktu membahas materi Demokrasi Liberal ( materi klas XII IPS SMA ), siswa diberi tugas menganalisis apa kelebihan dan apa kekurangan sistem demokrasi liberal pada masa itu, sehingga pada akhirnya bisa diambil hikmahnya dari pelaksanaan demokrasi liberal itu, cocok atau tidak bila diterapkan di Indonesia saat ini.
Pada akhirnya berhasil atau tidaknya kegiatan pembelajaran yang dilakukan seorang guru, salah satunya tergantung bagaimana seorang guru memilih metode yang dipakai. Contextual Teaching and Learning /CTL merupakan salah satu model pembelajaran, diharapkan dapat menambah kemampuan dan wawasan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan di sekolah. Sehingga pada akhirnya dapat menarik minat siswa untuk belajar lebih tekun dan rajin, yang pada gilirannya akan mengantar siswa ke kesuksesan yang nyata. Dengan melaksanakan pembelajaran Kontekstual dalam mata pelajaran Sejarah diharapkan, nada-nada sumbang tentang sejarah akan berkurang . Sehingga membuat sejarah tetap diminati dan dipelajari oleh setiap orang. Sekali lagi perlu dipahami ,di dalam sejarah ada Wisdom ( kebijaksanaan ), sehingga tak berlebihan kalau Ir. Sukarno presiden Indonesia yang pertama, pernah berpidato yang berjudul “ Jas Merah “ mengingatkan kepada kita, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Mudah-mudahan sejarah tetap mendapat tempat di hati setiap orang, amin.

About these ads

About sugiono geger

History Teacher in SMA Negeri I Geger Madiun East Java

2 responses »

  1. riza mengatakan:

    masalah paling sulit bagi guru adalah menentukan cara yang paling cocok, meransang pemikiran dan keingintahuan, melatih berpikir kritis, serta menarik minat siswa pak. terima kasih atas tulisannya pak…

  2. Sugiono Geger mengatakan:

    oke mudah-mudahan bermanfaat, trims kunjungannya mbak Riza

Silahkan Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s